BIOPORI…. Pencegah Banjir yang Ramah Lingkungan dan Penyubur Lahan Pertanian

0 komentar

Kurangnya daerah resapan air membuat musim hujan jadi identik dengan kata banjir. Tapi kini tidak perlu bingung dengan banjir, karena Anda bias membuat lubang resapan sendiri dengan teknologi resapan biopori, dan sumur resapan, misalnya.


 

Biopori adalah lubang-lubang didalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.



Gambar 1 : Foto Mikroskop Elektron dari Lubang Cacing dan Akar pada Matriks Tanah (dalam lingkaran kuning)

Gambar 1 diatas menunjukkan foto melalui mikroskop elektron yang menggambarkan dua buah lubang yang terbentuk oleh cacing (pada lingkaran kuning bagian atas) dan lubang yang terbentuk oleh aktifitas akar tanaman (pada lingkaran kuning bagian bawah). Bila lubang-lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah.

Atau dengan kata lain akan dapat mengurangi bahaya banjir yang mungkin terjadi. Peningkatan jumlah biopori tersebut dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal kedalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau vegetasi lainnya, dan sejenisnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan sumber energy bagi organisme di dalam tanah sehingga aktifitas mereka akan meningkat. Dengan meningkatnya aktifitas mereka maka akan semakin banyak biopori yang terbentuk.

Kesinergisan antara lubang vertikal yang dibuat dengan biopori yang terbentuk akan memumngkinkan lubang-lubangini dimanfaatkan sebagai lubang peresapan air artificial yang relatif murah dan ramah lingkungan. Lubang resapan ini selanjutnya diberi julukan Lubang Resapan Biopori atau disingkat sebagai LRB.



Gambar 2 : Ir. Kamir R Brata memegang alat untuk membuat biopori

Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara (1) meningkatkan daya resapan air, (2) mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), dan (3) memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.

Berbekal alat bor sederhana, lubang-lubang biopori ini bisa dibuat untuk kemudian diisi dengan sampah-sampah organik, sehingga selain bisa meresapkan air juga berpotensi menambah humus tanah sehingga lahan pun bisa bertambah subur.  Sehingga jelas, air yang diresapkan selain bisa mencegah banjir, juga bermanfaat dalam menyuburkan tanah.  Ditandaskannya, dengan teknologi biopori ini sebenarnya bukan manusia yang bekerja mencegah banjir melainkan mikroorganisme di dalam tanah yang bekerja.  Selain berfungsi menyuburkan tanah dengan membentuk humus, sampah yang dimasukkan ke dalam lubang juga berfungsi sebagai penahan agar tanah tidak tergerus menutupi lubang.

Lubang biopori yang direkomendasikan Kamir berdiameter 10 cm dengan kedalaman 80-100 cm dan dibuat secara tegak lurus ke dalam tanah atau tidak melebihi muka air tanah dangkal.  Lubang ini mampu menampung sampah sebanyak 8 liter.  Lubang perlu diisi sampah organik sebagai sumber makanan fauna tanah dan akar tanaman yang mampu membuat biopori atau liang (terowongan-terowongan kecil) di dalam tanah.
Biopori juga bisa diterapkan pada lahan yang tertutup beton.  Dengan membuka sedikit tutupan beton, dan dibuat lubang biopori maka meski jalan berbeton, tetap bisa mencegah banjir. Lubang dibuat dengan bor tanah khusus yang dirancang Tim Biopori IPB. Panjang bor 120 cm, diameter bor 10 cm, dan panjang mata bor 20 cm.

Sementara itu, Dr. Suwarto, staf pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) Faperta menandaskan integrasi biopori dengan lahan pertanian akan memberikan manfaat ganda.  Selain dapat mencegah banjir karena kemampuannya meresapkan air ke dalam tanah, teknologi biopori yang diterapkan di lahan-lahan pertanian akan membantu menambah kesuburan tanah sehingga pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas pertanian.



Gambar 3 : Sketsa Penampang Lubang Resapan Biopori

Tekologi Lubang Resapan Biopori (LRB) merupakan teknologi tepat guna mengatasi banjir, sampah dan ketersediaan air tanah. Teknologi LRB ini salah satu penemuan dari IPB yang ditemukan oleh Ir. Kamir R Brata.

Salah satu teknik pembuatan lubang resapan biopori ini dikembangkan oleh Tim Biopori dari Bagian Konservasi Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. Dinamakan teknologi biopori atau mulsa vertikal karena teknologi ini mengandalkan jasa hewan-hewan tanah, seperti cacing dan rayap, untuk membentuk pori-pori alami dalam tanah, dengan bantuan sampah organik, sehingga air bisa terserap dan struktur tanah diperbaiki.

Tim yang diketuai Ir. Kamir R Brata, MS ini juga mengadopsi kondisi alam. Hutan tak pernah banjir, saat hujan lebat sekalipun. Itu karena di hutan banyak aktivitas biota tanah. Mereka membuat pori-pori di tanah, sehingga resapan hutan terus terjaga. Di hutan, makanan biota tanah juga selalu tersedia, yaitu daun-daunan dan sampah organik hutan.

Lokasi pembuatan lubang bisa dimana saja di bagian rumah, yang penting ada tanahnya. Lubang ini kemudian diisi dengan sampah organik. Jika sampah belum siap, disumpalkan saja sebagian di bagian atas lubang. Tidak perlu terlalu padat, tapi dimampatkan. Kalau penuh, jumlah sampah yang dimuat dalam 1 lubang mencapai 8 liter. Itu kalau hanya satu lubang. Idealnya, untuk 100 meter bidang kedap (bidang tanah yang ditutup bangunan) dengan perhitungan curah hujan 50 mm per hari (hujan lebat), butuh sekitar 30 lubang. Jika 30 lubang tadi dikalikan 8 liter sampah per lubang, berarti ada 240 liter sampah yang bisa ditampung.


Sampah-sampah ini akan menjadi makanan biota tanah, lalu akan menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman. Kalau tidak mau pakai, komposnya bisa diambil dan diganti sampah yang baru. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.

Bisa juga memasukkan biota tanah (cacing, misalnya) ke dalam lubang untuk mempercepat proses. Ada yang ingin membuat kompos di lubang bipori. Mereka membuat starter untuk mempercepat dekomposisi. Nanti dipanen pas kemarau pada saat tidak ada air.


Sebetulnya, begitu lubang selesai dibuat, saat itu juga ia akan langsung berfungsi, meski biopori belum terbentuk. Tapi sifatnya masih resapan pasif, belum ada kegiatan biota tanah yang membuat pori-pori tanah. Begitu ada biota tanah, sekitar seminggu-dua minggu setelah pembuatan lubang, maka resapan akan berfungsi penuh. Ini ditandai dengan bagusnya resapan. Air lebih cepat meresap ke tanah.


Teknologi biopori ini sangat cocok bagi rumah tangga, karena sangat mudah dan hanya butuh ruang yang kecil. Panjang mata bor yang hanya 20 cm dan hanya mengebor untuk kedalaman 20 cm. Setelah 20 cm, tanah dikeluarkan dulu, baru kemudian dibor lagi. Tak perlu khawatir lubang ini bakal menjadi lubang persembunyian tikus atau ular. Tikus nggak suka lubang vertikal, karena kalau ia masuk, nggak bakal bisa keluar. Ular pun begitu. Apalagi nantinya ada sampah. Panas. Tikus nggak bakal mau.



sumber : ini, ini, ini, ini, ini
If you like this post, please share it!
Digg it StumbleUpon del.icio.us Google Yahoo! reddit

No Response to "BIOPORI…. Pencegah Banjir yang Ramah Lingkungan dan Penyubur Lahan Pertanian"

Posting Komentar